Sabtu, 01 Mei 2010

ALLAH ????


Akhir-akhir ini terdengar praktek-praktek tertentu, yang juga perlu dikritisi, karena berpotensi ke arah perpecahan, jika tidak dicarikan solusi yang memadai. Ada sebagian orang yang mulai mengadakan praktek pengusiran Roh Allah. Lainnya mulai bersikap antagonis terhadap nama Allah dan melarang orang menggunakan nama Itu. Bolehkah kita mempertahankan penggunaan nama “Allah” dikalangan umat kristiani, ataukah kita harus berhenti dan menggantikannya dengan nama lain untuk obyek penyembahan kita? Bertitik tolak dari pertanyaan ini, kita berusaha dengan pertolongan Tuhan untuk mencari pemecahan yang seobyektif mungkin dari perspektif , gramatikal, historikkal, kultural, dan kontekstual, yang kesemuanya akan dianalisa secara kritis dalam kebenaran serta melihat dalam segala segi menurut sudut pandang terang Alkitab.

Doktrin
Dalam Bibliologi (dogma tentang pewahyuan dan inspirasi Alkitab), kita belajar bahwa Roh Kuduslah yang menuntun para penulis Alkitab untuk menulis apa yang perlu dan memilih kata-kata yang tepat untuk digunakan dalam penulisan (2 Tim.3:16, 2 Pet.1:20, 21). Hal ini berlaku untuk seluruh Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Inilah yang disebut “verbal, plenary inspiration”. Keyakinan inilah yang membuat kita percaya akan kualitas dan sifat Alkitab yang tidak bersalah (inerrant-infallible). Roh Kudus, yang maha bijaksana, telah menuntun dan menetapkan, bahwa dalam kepentingan misi dunia, dan dalam kaitan dengan penyebaran Injil secara global, maka bukan bahasa Ibrani lagi yang dipakai untuk menjadi naskah asli Perjanjian Baru, nelainkan bahasa Yunani. Dengan demikian, para penulis Perjanjian Baru diilhami (diberi inspirasi) untuk menerjemahkan “Yahweh” dengan “Kyrios” , kemudian “El” dan “Elohim” (tunggalnya Eloah) dengan “ Theos”. Roh Kudus merasa perlu berbuat demikian karena bahasa Yunani ketika itu adalah bahasa internasional atau bahasa pergaulan, yang menghubungkan orang-orang yang berlainan bahasa (lingua franca). Contoh dari kebijaksanaan Roh Kudus itu adalah Wahyu 19:4, dikatakan dengan jelas sembahlah Theos. Tidak dikatakan sembahlah Elohim. Walaupun ke dua nama itu baik Elohim maupun Theos adalah nama-nama sebutan umum (generic names), yang juga bisa dipakai untuk ilah-ilah lain (Kittel 1985, 326), tetapi Roh Kudus menggunakan keduanya dalam Alkitab, dan khusus untuk Perjanjian Baru Ia memilih Theos untuk nama bagi obyek sembahan, bahkan Yesus sendiri yang adalah Logos itu disebut “Theos” (Yoh.1:1). Nama “Yahweh” memang bukan generic name, karena dipakai secara khusus untuk obyek sembahan Israel. Ini adalah nama pribadi, atau personal name (Achtemeter 1990, 684) bagi Tuhan yang dikenal di Israel, yang harus diindahkan, dikuduskan, dihormati dan tidak boleh disebut dengan sembarangan. Kendatipun demikian, dalam kebijaksanaan Roh Kudus ketika memberikan inspirasi kepada penulis Perjanjian Baru, Ia memilih kata Kyrios sebagai terjemahan atau pengganti “Yahweh”. Siapakah yang akan keberatan atas kebijaksanaan inspirasi Roh Kudus ini? Siapa kita untuk mengatakan tidak boleh nama “Yahweh” diganti atau diterjemahkan ke nama atau gelar lain? Sesungguhnya kita tidak lebih bijaksana daripada Roh Kudus
ETIMOLOGIS KATA ALLAH
Kita mendekati pembahasan kata Allah dari sudut bahasa. Kata Allah berasal dari dua kata: al, dan ilah. Al adalah kata sandang (band. Bahasa Inggris: the), dan ilah berarti: yang kuat, dewa. Dalam bahasa-bahasa Semit, kata ini menunjuk pada kuasa yang ada di luar jangkauan manusia, yaitu pada dewa. Sudah di masa para-Islam, al-ilah disambung menjadi Allah. Dan dalam agama orang-orang Arab para-Islam, kata ini digunakan untuk menunjuk pada dewa yang paling tinggi di antara dewa-dewa yang lain, yang masing-masing mempunyai namanya sendiri. Namun kata Allah itu sendiri bukan nama, seperti diterangkan di atas. Dengan demikian, kata Allah sudah ada dalam bahasa Arab sebelum Islam dalam zaman jahiliya atau jaman politeis. Kata itu bukan ciptaan orang Islam, ia juga tidak baru muncul dalam Al-Quran Al-Karim, melainkan, dari sudut bahasa, ia merupakan kata biasa dalam bahasa Arab lepas dari ikatan dengan salah satu agama tertentu.
Bagi orang-orang Arab pra-Islam nama Allah sudah dikenal dalam pengertian dipakai. Yang dimaksudkan dengan pra-Islam disini adalah era sebelum tahun 610. Menurut Ensiklopedi Islam: Kata Allah sudah dikenal oleh masyarakat Arab sebelum Islam. Itu terlihat dari nama mereka yang mengandung kata tersebut, seperti nama Abdullah (Abdi Allah). Sejarah menunjuk bahwa pada masa Nabi Muhamad SAW terdapat orang-orang yang menganut agama wahyu sebelum Islam, yang hanya menyembah Allah SWT, sebagaimana yang dilakukan kaum Hanif (Ridwan 1994, 124).

Secara etimologis dan semantic, kata ini terdapat pula dalam bahasa-bahasa Semit yang lain, mulai dengan bahasa Assiria dan Babilonia sampai bahasa Phoenikia di Ugarit, dan pula dalam bahasa Ibrani dan Siriani atau Arami yang luas digunakan di Timur Tengah sejak abad ke-5 SM sampai masa meluasnya agama Islam dan bahasa Arab pada abad ke-7 Masehi. Akar kata ini yang terdapat dalam bahasa-bahasa itu ialah dua konsonan (huruf mati), yakni alif dan lam (el), dan ucapannya yang lengkap dengan huruf hidup adalah sesuai dengan phonetic masing-masing bahasa, umpamanya el dalam bahasa Ibrani dan il dalam bahasa Arab.

Yang dikenal dalam bahasa Ibrani, dan dengan demikian pula dalam nats Ibrani Perjanjian Lama (Tenakh orang-orang Yahudi), adalah kata el dalam beberapa bentuknya, entah el-elyon, dewa yang tertinggi, band. Kej. 14, el syaddai (dewa yang kuasanya dahsyat), dan lain sebagainya atau kata elah (kepanjangan huruf hidup untuk menandai kebesaran). Dengan mengikut tata phonetika, maka elah dalam bahasa Ibrani adalah sama dengan bentuk ilah dalam bahasa Arab. Dari bentuk elah ini dibentuklah kata jamak elohim. Elohim-lah yang paling sering digunakan dalam Perjanjian Lama, di mana jamaknya menunjuk kepada kemahabesarannya (pluralis maiestatis, atau jamak kemuliaan yang dikenal pula dalam Al-quran di mana perkataan Allah dikemukakan dengan nahn, kami). Di samping itu, tetragram (YHVH, Yahveh) digunakan pula, namun ialah nama Allah (Kel. 3, 14 dyb.). Di kemudian waktu nama itu tidak diucapkan lagi melainkan dalam bacaan nats suci ia digantikan dengan ucapan adonay (Tuhan) atau saja dengan kata syama (bahasa Arami, band. Bahasa Ibrani syam dan bahasa Arab ism, artinya nama itu. Ucapan adonay atau syama hanya digunakan dalam pembacaan, sedangkan dalam nats Ibrani yang tertulis, empat huruf YHVH tetap ditulis. Kebiasaan ini mengundang suatu kekeliruan di kalangan orang yang tidak mengetahui mengenai kebiasaan ini. Ketika tanda-tanda untuk huruf hidup ditambah pada nats bahasa Ibrani yang tertulis, maka tulisan YHVH ditandai dengan huruf-huruf hidup dari kata adonay, dan kombinasi ini memberikan kesan seolah-olah kata itu dibaca Yehovah. Kekeliruan ini sampai kini tetap dipertahankan oleh beberapa sekte Kristiani (seperti a.l. Saksi Yehovah) yang tidak tahu tentang aturan bahasa Ibrani dalam soal membaca nats suci. Jika JHVH berupa nama Allah yang kemudian tidak diucapkan, maka kata elah, elohim tetap digunakan dan diucapkan.

Allah memang bukan nama.
Dalam terjemahan Perjanjian Lama atau Tenakh ke dalam bahasa Yunani yang disebut Septuaginta dan yang dikerjakan sekitar 150 tahun SM oleh orang-orang Yahudi yang bermukim di Mesir, tetragram (yakni 4 huruf tulisan YHVH) dialihkan dengan kyrios (artinya sama dengan adonay, Tuhan atau rabb), dan dari situ penggunaannya diambil oleh umat Kristiani dan Perjanjian Baru yang juga ditulis dalam bahasa Yunani. Sedangkan kata el, elah atau elohim dialihkan dengan kata ho theos, dewa itu yang sama artinya dengan al-ilah atau Allah, dan demikian pula penggunaannya dalam Perjanjian Baru.

Dalam khotbah rasul Paulus di Areopagus di kota Athena, Paulus malah menghindari menyebut dewa-dewa Yunani dengan kata theoi (bentuk jamak dari theos) ketika ia menyinggung rasa religiositas orang Athena yang tinggi (Kisah Para Rasul 17:22). Kata yang ia pakai ialah deisidaimonesterous, yang dalam bahasa Latin diterjemahkan dengan superstitiosiores, yang sangat percaya kepada hal-hal yang sangat luar biasa. Jadi dewa-dewa Yunani disebut Paulus sebagai daimon, yakni hantu atau leyak dalam bahasa-bahasa suku Indonesia atau jinn dalam bahasa Arab. Mereka bukan dewa, sehingga kata ho theos hanya digunakan untuk menunjuk kepada Allah yang benar. Hal ini kurang diperhatikan dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia yang menerjemahkan kata Yunani itu dengan yang sangat beribadah kepada dewa-dewa; terjemahan itu tidak tepat. Dalam bahasa Alkitab, istilah-istilah yang digunakan diperiksa dengan sangat seksama. Keseksamaan yang dialektis itu juga nampak dalam Injil Yohanes, umpamanya dalam dua ayatnya yang pertama di mana dalam terjemahan-terjemahan pembedaan di antara theos dan ho theos (ilah dan Allah) tidak diperhatikan. Kata (ho) theos ini hanya digunakan untuk menunjuk kepada Allah yang benar dan tidak digunakan untuk dewa-dewa orang politeis. Suatu teologi yang bersifat ilmiah harus peka terhadap rincian-rincian seperti itu.

Melihat kewaspadaan rasul Paulus dan para penulis Alkitab yang lain dalam perkataan yang mereka pilih untuk menyebut Allah, maka mengherankan benar bilamana dalam terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Indonesia dewa-dewa orang-orang politeis juga diterjemahkan dengan allah-allah. Terjemahan itu salah, baik dari sudut teologis maupun dari sudut filologis.
Dewa-dewa itu paling boleh diterjemahkan dengan ilah-ilah sebagai pengganti jamak bahasa Arab yaitu liha, atau lebih baik lagi diterjemahkan dengan dewa-dewa. Juga tulisan illahi (pakai dua ila) yang sering kita temui memang salah adanya.

Dalam terjemahan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Siryani yang digunakan di Siria sebelum Islam datang dan yang merupakan salah satu cabang bahasa Arami dan termasuk rumpun bahasa-bahasa Semit, terjemahan mana dikerjakan baik oleh orang-orang Yahudi maupun Kristen, maka kata yang digunakan untuk Allah adalah kata yang biasa digunakan dalam bahasa-bahasa Semit, yakni yang berakar dalam akar kata al dan dalam bahasa Siryani diucapkan alahu, dewa itu yang sama artinya dengan ha-ellah dalam bahasa Ibrani, ho-theos dalam bahasa Yunani dan Allah (=al-ilah) dalam bahasa Arab.
Dengan demikian tidak mengherankan pula bahwa orang-orang Islam menggunakan kata Allah (= al-ilah)untuk menunjuk kepada Allah yang benar, dan orang-orang Yahudi dan Kristen baik yang sudah menggunakan bahasa Arab sebelum agama Islam disebarkan maupun yang kemudian menggunakan bahasa Arab setelah wilayah mereka dikuasai oleh orang-orang Arab, memakai kata yang sama pula sebagaimana terbukti dari syair-syair Kristen Arab para-Islam dan tulisan-tulisan Kristen Arab sesudah Islam datang.

Jadi, kata Allah sebagai salah satu kata yang memang tertanam dalam bahasa Arab dan senantiasa digunakan oleh setiap orang yang menggunakan bahasa Arab itu, lepas dari ikatan agamanya. Ia sudah digunakan oleh orang Arab di zaman pra-Islam yang sering disebut zaman jahiliyya, kemudian dipegang bersama-sama orang Yahudi dan Kristen yang menggunakan bahasa Arab dan kemudian pula orang-orang Islam.
Semua berdasarkan latar belakang etimologis kata itu sendiri, akan tetapi dengan memberikan isi dan makna sesuai dengan pemahaman teologis masing-masing yang berbeda satu sama lain. Jadi dengan melihat dari sudut Historika(sejarahnya) dan Etimologi kata serta Alkitab maka bagi orang Kristen Kata Allah itu adalah kata penunjukan tentang Tuhan dan bukan Nama.




.

1 komentar:

TIBERIAS NEWS mengatakan...

pak sumbernya mana??

1. http://darwinternazionale.multiply.com/journal/item/8/Etimologi_kata_Allah_-_Pendeta_J_Lengkong
2. http://www.answering-islam.org/Bahasa/RencanaBF/pengunaan_isti_allah.html
3. ??