Jumat, 27 Agustus 2010

DRAW ME CLOSE TO YOU

With All I Am (By Hillsong)

With All I Am (By Hillsong)

Rabu, 12 Mei 2010

Kenaikan Tuhan Yesus Ke Surga

Renungan, Kamis 13 Mei 2010
Tahun A: Kenaikan Tuhan Yesus
MEMULIAKAN KRISTUS DENGAN MATA HATI YANG TERANG
Kis. 1:1-11; Mzm. 47; Ef. 1:15-23; Luk. 24:44-53
Seringkali umat Kristen terjebak dalam perdebatan teologis, seperti: apakah Kristus bangkit dengan tubuh atau RohNya. Hasilnya ada sebagian orang yang memilih di antara 2 pemahaman tersebut, yaitu mereka yang percaya kebangkitan Kristus dengan tubuhNya, dan ada juga yang percaya Kristus bangkit dengan RohNya saja. Demikian pula dengan masalah kenaikan Tuhan Yesus ke sorga. Sebagian besar menyatakan Kristus naik ke sorga dengan tubuhNya, dan sebagian lainnya percaya Kristus naik ke sorga dengan RohNya. Tentunya semua pemahaman teologis tersebut memiliki dasar dan alasan yang cukup kuat sehingga masing-masing pihak merasa mampu mempertanggungjawabkan dengan penuh keyakinan dan argumentasi yang dianggap alkitabiah.
Tetapi apakah semua perdebatan atau percakapan tersebut mampu membawa umat atau setiap orang yang terlibat untuk mengalami “pencerahan” yang makin memperteguh iman dan kasihnya kepada Kristus? Perdebatan teologis seharusnya ditempatkan dalam kerangka dan upaya agar kehidupan spiritualitas kita terus-menerus diperkaya oleh kekayaan iman dan kasih; sehingga kita mampu mengalami pembaharuan hidup yang telah dikerjakan secara sempurna oleh Kristus dalam kematianNya di atas kayu salib, yang kemudian diperteguh oleh kuasa kebangkitanNya serta Kristus yang telah dimuliakan Allah dalam kenaikanNya ke sorga. Ini berarti yang dimaksudkan dengan “pencerahan” dengan paradigma baru berkaitan dengan proses pembaharuan hidup, sehingga setiap orang percaya mampu melihat realitas kehidupan ini dengan lensa iman dan kasih kepada Allah dan sesama. Karena betapa sering kita hanya dapat membaca atau melihat realitas kehidupan ini dengan mata inderawi atau sekedar fisik belaka sehingga kita sering gagal memberikan tafsiran dan kesimpulan yang lahir dari sikap iman dan kasih. Tafsiran atau sudut pandang atas realitas hidup yang tidak didasari oleh iman dan kasih kepada Kristus yang telah wafat dan dimuliakan oleh Allah ke sorga hanyalah akan melahirkan suatu tafsiran yang sangat dangkal dan simplistik, bahkan menyimpang dari apa yang dimaksudkan oleh firman Tuhan.

Sebelum Tuhan Yesus pergi meninggalkan para muridNya, Kristus terlebih dahulu menyatakan diri bahwa Dia sungguh-sungguh hidup: “Lihatlah tanganKu dan kakiKu; Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaKu” (Luk. 24:39). Iman para murid dan gereja perdana tidak didasarkan kepada kisah mitos tentang kebangkitan Kristus. Sebab kepercayaan para murid dan gereja perdana pada hakikatnya didasari oleh pengalaman iman yang faktual. Namun perlu diingat bahwa yang menentukan para murid dan gereja perdana yang akhirnya mereka dapat percaya atau mengimani Kristus yang bangkit bukan terjadi karena kekuatan manusiawi atau daya analitis teologis mereka. Sebelum Tuhan Yesus naik ke sorga, Dia terlebih dahulu memberi pengajaran kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur”. Iman para murid dibentuk oleh pengajaran dari Kristus yang bangkit; sehingga mereka dimampukan untuk mengerti bahwa penderitaan, kematian dan kebangkitan serta kenaikan Kristus ke sorga ditempatkan dalam kerangka karya keselamatan Allah sebagaimana telah dinubuatkan oleh Musa, pemazmur dan para nabi. Seandainya peristiwa penderitaan, kematian dan kebangkitan serta kenaikan Kristus ke sorga tidak dinubuatkan terlebih dahulu oleh kitab-kitab Musa, kitab Mazmur dan kitab para nabi maka segala peristiwa tersebut sebenarnya tidak memiliki makna apapun sebab tidak menjadi bagian dari karya keselamatan Allah. Itu sebabnya di Luk. 24:45 menyaksikan, Tuhan Yesus membuka pikiran mereka: “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci” (NKJV: “And He opened their understanding, that they might comprehend the Scriptures). Para murid dan gereja perdana dapat percaya karena Kristus yang bangkit telah memberikan pengajaran dan Dia pula telah membuka pikiran serta pengertian mereka sehingga mereka dapat mengerti makna firman Tuhan yang telah dinubuatkan oleh Kitab Suci.

Selaku umat percaya, pada saat ini kita juga membutuhkan karya Kristus yang “membuka dan menyingkapkan pikiran” sehingga kita dimampukan untuk mengerti makna kebenaran firman Tuhan. Sebab manakala pikiran dan pengertian kita tertutup oleh kebenaran kita sendiri, maka segala bentuk karya dan penyataan Allah yang paling spektakuler sekalipun tidak akan mampu membuat kita secara otomatis percaya dan mengalami pembaharuan hidup. Jadi tidak dijamin orang-orang yang telah mengalami peristiwa “mukjizat” atau “supernatural” senantiasa dapat lebih dekat dan mengasihi Kristus serta mengalami pembaharuan hidup. Demikian pula peristiwa penampakan Kristus yang bangkit atau kenaikanNya ke sorga tidak secara otomatis membuat orang-orang pada zaman itu menjadi lebih percaya dan hidup dalam pertobatan. Apabila mereka memiliki paradigma teologis bahwa tubuh Kristus saat Dia menjadi manusia sebagai suatu esensi yang kotor atau berdosa (misalnya karena pengaruh filsafat “neo-platonisme”), maka pastilah mereka tidak akan menerima kemungkinan peristiwa kebangkitan dan kenaikan Kristus dengan tubuh jasmaniahNya. Sehingga tidak mengherankan dalam perkembangan sejarah kekristenan kemudian berkembang pula golongan “Gnostik” yang intinya menolak kebangkitan dan kenaikan Kristus ke sorga dengan tubuhNya. Yang mana pemikiran dari golongan Gnostik tersebut kemudian menjadi berbagai sekte Kristen yang berkembang di Mekkah dan Medinah sekitar abad VI-VII M. Sumber-sumber dari kelompok sekte dengan “injil apokrif” inilah yang tampaknya diambil alih tetapi juga beberapa bagian dari pemikiran “injil apokrif” dikritisi dalam pemikiran teologis Islam. Itu sebabnya muncul berbagai versi mengenai peristiwa kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus. Masing-masing versi tersebut menganggap pandangan teologisnya sebagai yang paling benar. Setiap kelompok dengan versinya memiliki alasan atau argumentasi teologisnya. Jadi tanpa dibukakan dan disingkapkan oleh Kristus sendiri sebagai sumber kebenaran, maka kita akan menjadi orang-orang buta yang menganggap dirinya paling benar dengan apa yang kita yakini. Seperti 5 orang buta yang memegang seekor gajah dan memberikan tafsirannya masing-masing: ada yang menganggap gajah sebagai hewan dengan bentuk kipas karena dia memegang telinganya, ada yang menganggap gajah seperti ular besar karena dia memegang belalainya, ada yang menganggap gajah seperti pohon karena dia memegang kakinya, ada yang menganggap gajah seperti pedang yang melengkung karena dia memegang gadingnya, dan ada yang menganggap gajah seperti kemucing (alat pembersih dari bulu) karena dia memegang ekornya.

Apabila di Injil Lukas menyaksikan tindakan Tuhan Yesus yang “membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci” (Luk. 24:45), maka rasul Paulus mendoakan jemaat Tuhan demikian dengan gagasan yang hampir serupa, yaitu: “supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus”. Doa rasul Paulus adalah agar setiap jemaat Tuhan dikaruniakan 3 hal yang utama agar mereka dapat mengenal kemuliaan Kristus yang telah bangkit dan naik ke sorga, yaitu:
- Roh hikmat (pneuma sophias): yang menunjuk kepada karunia Allah yang memampukan manusia untuk mengerti rahasia dan kehendak Allah tentang jati-diri Kristus sebab rahasia dan kehendak Allah yang dinyatakan di dalam diri Kristus melampaui kemampuan pikiran dan kehendak manusia. Sebab pikiran dan akal budi manusiawi tidaklah mungkin dapat menjangkau rahasia Kristus yang ilahi dan mulia serta yang ditentukan oleh Allah sebagai penguasa hidup umat manusia.

- Wahyu (apokalupsis): dalam pemahaman iman Kristen, kebenaran ilahi bukan ditentukan sebagai upaya dan prestasi rohani manusia; tetapi kebenaran ilahi ditentukan oleh kesediaan Allah menyingkapan diriNya. Sehingga dengan penyingkapan diri Allah tersebut, manusia diperkenankan untuk mengenal rahasia dan kemuliaan Allah berdasarkan kasih-karuniaNya. Jadi tanpa anugerah berupa wahyu Allah, manusia tidak mungkin dapat mengenal Kristus dan percaya kepadaNya.

- Mata hati yang terang (pephotismenous tous ophthalmous tes kardias): suatu ungkapan dengan tekanan makna kepada sikap hati manusia. Sebab makna “hati” dalam pemikiran teologia umat Israel menentukan seluruh orientasi dan tujuan hidup manusia serta menentukan pula keputusan etis sebagai prinsip-prinsip nilai yang menentukan kualitas hidup. Namun manakala hati tersebut belum memperoleh “penerangan” atau “pencerahan” dari Allah, maka “hati” juga dapat membawa manusia kepada sikap yang memberontak dan melawan kehendak Allah. Itu sebabnya muncul ungkapan “hati yang keras” atau mengeraskan hati seperti yang dilakukan oleh Firaun. Walaupun Firaun telah melihat begitu banyak mukjizat Allah namun dia tetap mengeraskan hati (Kel. 8:19), sehingga Allah kemudian menghukumnya.

Ketiga pola tersebut di atas pada prinsipnya saling melengkapi dan mempengaruhi kehidupan umat percaya. Apabila umat percaya diberi karunia berupa roh hikmat dan wahyu dari Tuhan, maka pastilah mereka akan memiliki mata hati yang terang untuk merespon penyataan Allah dalam Kristus. Sebaliknya apabila spiritualitas mereka makin terbuka karena mereka telah memiliki mata hati yang terang, maka pastilah mereka akan mudah menyerap dan memahami secara tepat roh hikmat dan wahyu dari Tuhan. Jadi pola karunia roh hikmat dan wahyu serta mata hati yang terang merupakan kekayaan rohani yang dianugerahkan Allah dan selalu bersifat dinamis, sehingga setiap orang percaya dimampukan untuk mengalami suatu proses pertumbuhan yang semakin dalam terhadap Kristus. Sehingga apabila spiritualitas kita makin dipenuhi oleh roh hikmat dan wahyu serta mata hati yang terang, maka kita akan dimampukan untuk lebih mempermuliakan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Justru dalam realita kehidupan kita sering gagal untuk mempermuliakan Allah di dalam Kristus, sebab ibadah dan spiritualitas kita sering dipenuhi oleh roh duniawi dan kehendak manusiawi serta mata hati yang suram oleh karena berbagai permasalahan atau tekanan kehidupan. Akibatnya kita mudah bersikap pesimistis dengan hati yang suram apabila kita menghadapi berbagai hal yang mengecewakan atau hal-hal yang menyedihkan hati kita. Dalam sikap demikian kita sering jatuh dalam sikap putus-asa dan tidak lagi memiliki pengharapan apapun terhadap pertolongan Tuhan. Itu sebabnya di Ef. 1:18 rasul Paulus berkata: “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus”. Dalam konteks ini secara sengaja rasul Paulus mengkaitkan spiritualitas “mata hati yang terang” dengan sikap pengharapan. Sebab tanpa karunia Tuhan berupa mata hati yang terang sebagai hasil dari roh hikmat dan wahyu, maka pastilah kita akan dikuasai oleh perasaan putus-asa atau tanpa pengharapan. Bandingkan pula pengertian “mata” sebagai cermin “hati” atau spiritulitas dan kepribadian kita, yaitu: “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu” (Mat. 6:22-23).

Namun makna dari “melihat dengan mata hati yang terang” saat Kristus dipermuliakan dan naik ke sorga, bukanlah sekedar perasaan kagum dan terpesona. Ketika kita mengagumi atau terpesona dengan sesuatu hal umumnya wajah kita juga berseri-seri atau mata kita berbinar-binar. Pada saat para murid menyaksikan Tuhan Yesus yang terangkat ke sorga dan awan kemudian menutupiNya, mereka terus menatap ke langit. Mereka terpesona menyaksikan Kristus yang dimuliakan oleh Allah dengan mengangkat Dia ke sorga. Sikap para murid Tuhan Yesus tersebut sering menjadi cermin bagi banyak orang Kristen yang hanya terkagum-kagum oleh pengalaman “adikodrati” dan hal-hal yang menakjubkan tetapi mereka melalaikan tugas atau tanggungjawabnya di dunia ini. Mata mereka mungkin berbinar-binar saat mereka melihat berbagai hal yang langka dan menakjubkan tentang kehidupan “sorgawi”; tetapi mata hati mereka segera menjadi redup atau suram saat mereka harus berhadapan dengan realitas hidup yang keras dan pahit. Kis. 1:10-11 berkata: “Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga". Para malaikat menegur sikap para murid Tuhan Yesus agar mata mereka tidak terus-menerus tertuju untuk menatap langit; tetapi mereka diingatkan untuk kembali ke dunia realitas mereka dan melakukan tugas panggilan sambil menantikan kedatangan Kristus kembali. Jadi makna “mempermuliakan Kristus dengan mata hati yang terang” bukanlah dengan cara melarikan diri (escaping) ke realitas “sorgawi” atau “dunia rohani”; tetapi justru kita harus berani menghadapi realiatas faktual namun dengan perspektif yang baru yaitu pembaharuan hidup oleh kuasa Roh Kudus. Itu sebabnya sebelum Kristus naik ke sorga, Tuhan Yesus berkata: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8).

Jika para murid Tuhan Yesus dan gereja perdana dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dengan kuasa Roh Kudus, maka demikian pula kehidupan kita selaku umat percaya pada masa kini. Pembaharuan hidup sebagai buah dari Roh Kudus haruslah kita wujudkan dalam suatu kesaksian yang nyata kepada orang-orang di sekitar kita. Dalam hal ini kita tidak mempermuliakan Allah dengan cara memberi “kesaksian-kesaksian rohaniah” yang serba menakjubkan atau betapa intimnya kita dengan Kristus sehingga kita dapat berbicara dan berjumpa secara eksklusif dengan Dia. Jenis kesaksian yang demikian patut diragukan kebenarannya, karena “ujung-ujungnya” kesaksian tersebut bertujuan untuk mempermuliakan diri sendiri dan mencari popularitas dengan simbol-simbol pengalaman religius. Sebab dengan kesaksian yang menakjubkan itu, sebenarnya mereka mau mengatakan bahwa betapa penting dan istimewanya diri mereka sehingga mereka diperkenankan oleh Tuhan untuk melihat realitas “sorga” dan dapat mendengar suara Tuhan secara langsung. Tidaklah demikian sikap kita selaku jemaat Tuhan yang dewasa dan bertanggungjawab. Sebab makna dari tindakan mempermuliakan Allah perlu kita wujudkan dalam pembaharuan hidup, yaitu dengan cara menghadirkan kemuliaan Kristus melalui kejujuran yaitu integritas diri, kerajinan dalam bekerja, kesopanan dalam bertingkah laku, kepedulian dalam kasih kepada mereka yang menderita serta pengampunan kita kepada mereka yang bersalah. Manakala kita mempermuliakan Allah dan Kristus dengan pembaharuan hidup, maka pastilah kita telah mempermuliakan Dia dengan mata hati yang terang. Dengan spiritualitas yang demikian, kita akan terus diperkaya oleh Tuhan dengan roh hikmat dan wahyuNya sehingga mata hati kita akan makin dipertajam dan jeli untuk membedakan kehendak Allah dengan kehendak manusiawi; antara kepentingan Kristus dengan kepentingan diri sendiri sendiri; membedakan kebenaran dengan kebatilan. Jika demikian, bagaimanakah pola kita untuk mempermuliakan Allah dan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita lebih cenderung menatap “ke atas” (dunia “rohaniah”) dan tidak peduli dengan tanggungjawab yang riel? Apakah kesaksian kita didasari oleh pembaharuan hidup atau sekedar kita fasih untuk beradu argumentasi yang sifatnya kognitif? Jadi apakah kehidupan kita saat ini telah mencerminkan kemuliaan Kristus yang telah bangkit dan naik ke sorga? Amin.

Senin, 10 Mei 2010

Arti Paskah

Apa Paskah itu…..?
Paskah dalam PL dan kehidupan bangsa Yahudi, dikenal pula sebagai Pesach atau Pesah (פסח pesaḥ), yaitu sebuah hari raya Yahudi, yang dimulai pada malam tanggal 14 Nisan selama delapan hari, untuk memperingati keluarnya bangsa Israel dari Mesir.
Ada tiga mitzvah yang biasanya dihubungkan dengan peringatan ini, yaitu: memakan matzoh, atau roti tidak beragi; larangan memakan makanan apapun yang mengandung ragi pada hari raya ini; dan penyampaian kembali peristiwa Keluaran (Mitzrayim). Di zaman dahulu (dan bahkan sampai sekarang di antara orang Samaria, ada peristiwa keempat yang dilakukan yaitu: persembahan kurban anak domba pada malam tanggal 14 Nisan (juga dikenal sebagai Aviv) dan memakan kurban Paskah pada malam itu. Perintah untuk mengisahkan kembali peristiwa pembebasan ini dilakukan melalui sebuah upacara komunal yang disebut seder, yang dirayakan pada dua malam pertama dari hari raya ini (di Israel, hanya pada malam pertama). Kebiasaan lainnya yang terkait dengan Paskah Yahudi ini adalah memakan sejenis tanaman pahit dan makanan-makanan lain yang khas untuk makan malam seder. Sementara ada banyak alasan diberikan untuk memakan matzoh, Kitab Keluaran menjelaskan bahwa hal ini memperingati roti yang dimakan bangsa Israel pada peristiwa Keluaran: karena tergesa-gesa meninggalkan Mesir, mereka tidak mempunyai waktu untuk menunggu adonan rotinya naik.

Istilah Paskah berasal dari Alkitab Ibrani, yang pertama kali disebutkan dalam Kitab Keluaran. Dalam bahasa Inggris, istilahnya diterjemahkan menjadi Passover, yang berarti melewatkan.
Wabah terakhir dari wabah di Mesir, yaitu pembunuhan atas semua anak sulung, seperti halnya wabah-wabah lainnya, tidak melanda bangsa Israel. Torah menyatakan bahwa ketika melihat percikan darah anak domba di pintu-pintu rumah orang Israel, Allah melewatkanrumah-rumah mereka. Kata kerja aslinya dalam Torah adalah posach. Bentuk kata bendanya, pesach, juga muncul pada pasal yang sama, dalam acuan kepada anak domba itu (kadang-kadang juga diacu sebagai anak domba Paskah) yang dikurbankan sebelumnya hari itu dan kemudian dimakan pada malam itu: "buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN." (Keluaran 12:11).


arti dari paskah yany sebenarnya
Bayangkan apa yang akan dialami para murid-murid Yesus jika pada akhir pekerjaan-Nya di bumi, Yesus Kristus tiba-tiba menghilang, mengabaikan hal yang paling ditakutkan dalam peradaban manusia -- maut. Mungkin tiba-tiba firman-Nya hanya akan menjadi sekadar kata-kata tak berarti, dan makna agung dari pengorbanan-Nya di kayu salib mungkin hilang. Semua hal yang dilakukan-Nya, selain kematian-Nya, mungkin akan membuat firman-Nya dianggap palsu, sedangkan Tuhan tidak memberikan segala sesuatu yang palsu kepada kita.
Yesus Kristus, Pribadi kedua dari trinitas Allah, bersedia meninggalkan surga, menjadi manusia, dan turun ke bumi. Ia datang bukan karena kebetulan. Ia memiliki suatu tujuan saat datang dan menyatakan Diri dalam beberapa kesempatan di bumi. Kepada para murid-Nya, Ia berkata bahwa Ia "datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:45). Ia berkata kepada Zakheus bahwa tujuan kedatangan-Nya adalah "untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Lukas 19:10). Kepada orang-orang Farisi, Ia menyatakan Diri sebagai gembala yang baik yang "memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya" (Yohanes 10:11,14,18).
Jelas bahwa tujuan utama dari kedatangan-Nya ke bumi adalah untuk menebus dosa. Ia datang ke dunia di mana hubungan antara Allah dan umat-Nya terputus karena dosa, sehingga Ia bisa memberikan pengampunan dan mengembalikan kita ke dalam hubungan kasih yang semula Allah inginkan. Menurut Roma 3:23, "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." Kemudian, Roma 6:23 mengatakan bahwa "upah dosa ialah maut". Namun demikian, Pribadi kedua dalam trinitas Allah, Yesus, menjadi manusia sehingga Ia bisa memberikan nyawa-Nya dan menggantikan kita di bukit Kalvari -- untuk menebus dosa kita. Kematian-Nya membuat orang yang percaya pada-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat dapat berdamai dengan Allah, dan dosanya diampuni.
Karya penebusan-Nya yang menyelamatkan kita dari hukuman kekal dosa dan menyatukan kita kembali dengan Allah, tidak dapat dipisahkan dari sifat-Nya, baik sebagai Allah maupun manusia. Hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Oleh karena itu, jika Yesus bukan benar-benar Allah, Ia tidak dapat menjadi Juru Selamat dan mengampuni dosa kita. Jika Ia tidak benar-benar menjadi manusia, Ia tidak dapat mati demi dosa kita. Menjadi Allah membuat-Nya memenuhi syarat untuk menjadi Juru Selamat kita, namun pengorbanan-Nya bagi kita dalam kemanusiaan-Nya benar-benar membuat-Nya menjadi Juru Selamat kita.
Pemahaman yang benar akan pribadi manusia Yesus Kristus penting agar dapat memahami dengan baik karya penebusan-Nya. Fakta bahwa Yesus adalah Tuhan berarti karya penebusan-Nya semata-mata karya dan kehendak Tuhan. "Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus." (2 Korintus 5:19) Karena ini adalah karya Allah, maka tidak dapat menjadi karya manusia. Karya-Nya bukanlah karya penebusan Allah ditambah dengan karya lainnya, tetapi semata-mata hanyalah karya penebusan-Nya saja.
Pemahaman yang benar dari pribadi Yesus Kristus -- sifat dan karakter-Nya -- penting untuk memahami keefektifan karya penebusan-Nya. Fakta bahwa Yesus adalah Tuhan berarti karya keselamatan-Nya tidak hanya untuk satu kali saja, satu tempat saja, atau satu situasi saja. Nilainya tak terbatas dan kekal. Karya penebusan itu ada bagi semua orang dalam segala zaman. Penebusan yang sifatnya kekal memerlukan pengorbanan yang kekal, pengorbanan besar yang hanya bisa diberikan oleh Allah-Manusia.
Pemahaman yang benar akan pribadi Yesus Kristus juga penting agar kita dapat menerima dan mengalami karya tebusan-Nya. Fakta bahwa Yesus adalah Tuhan berarti seseorang tidak bisa mendapat keselamatan apabila ia pada saat yang sama tidak mengakui keilahian Yesus. Yesus menyampaikan hal tersebut secara terus terang pada orang Yahudi: "Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." (Yohanes 8:24)
Di sini kita melihat bahwa karya penebusan Yesus tidak dapat dipahami secara terpisah dari sifat-Nya sebagai Allah dan manusia.
YESUS, KORBAN KITA ATAS DOSA
Untuk memahami arti dan tujuan kematian Yesus, kita harus merujuk pada sistem korban pada Perjanjian Lama. Pada masa Perjanjian Lama, seekor hewan disembelih dan darahnya diletakkan di atas altar. Itu adalah cara manusia, yang terpisah dari Allah karena dosa, untuk mendapat pengampunan dan berdamai dengan Allah. Namun demikian, darah binatang tidak dapat menghapus dosa, seperti yang penulis Ibrani katakan, "Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa." (Ibrani 10:4) Mengorbankan hewan untuk Tuhan itu juga tidak dapat menghapus dosa manusia: "Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa." (Ibrani 10:11)
Kalau begitu apa tujuan dilakukannya pengorbanan itu? Pengorbanan hewan itu memberikan pengampunan dosa sementara yang diterima manusia dengan iman, dan memungkinkan mereka diterima Allah. Namun lebih daripada itu, cucuran darah dan ketentuan kehidupan yang ada di antara para pendosa, menekankan perlunya korban pengganti.
Yesus Kristus melakukan pengorbanan darah kekal di kayu salib, demi semua dosa dengan memberikan diri-Nya sebagai korban pengganti. Penulis Ibrani mengatakan bahwa kedatangan-Nya adalah "untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya" (Ibrani 9:26). "Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, ..., tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa." (Ibrani 10:12,18)
Karena pengorbanan Yesus, dosa yang memisahkan kita dengan Allah, dihapuskan jika kita percaya pada Yesus, dan kita bisa berdamai dengan Allah -- artinya, kita dapat menjalin hubungan baik dengan-Nya lagi.
Jadi, mereka yang dengan iman memberikan persembahan korban di Perjanjian Baru menanti-nantikan kayu salib dan percaya bahwa seseorang akan datang untuk menebus dosa mereka. Kita dengan iman mengingat kembali kayu salib dan Pribadi yang mati di atasnya untuk menggantikan dan menebus dosa kita.
YESUS, ANAK DOMBA PASKAH KITA
Untuk memahami arti dan tujuan kematian Yesus, kita harus merujuk pada Paskah, yang dirayakan pada zaman Keluaran. Orang Israel tinggal di Mesir selama empat ratus tahun, dari menjadi budak sampai warga negara Mesir. Allah, untuk memaksa Firaun mengizinkan umat Israel kembali ke tanahnya sendiri, mengirim sembilan wabah, menunjukkan kuasa-Nya pada Firaun. Wabah terakhir adalah kematian anak sulung di Mesir. Agar tidak terkena wabah itu, umat Israel harus mengorbankan seekor domba tak bercela (Keluaran 12:5), membunuhnya (Keluaran 12:6), dan membubuhkan darahnya pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas (Keluaran 12:7). Darah itu adalah tanda. Dan saat Allah melihat tanda itu di pintu rumah, ia melewati rumah itu dan tidak mengambil nyawa anak sulung yang ada di dalamnya (Keluaran 12:13).
Dalam Paskah, kita sekali lagi dapat melihat korban pengganti dan manfaatnya dengan iman (Ibrani 11:28). Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Yesus memenuhi kriteria sebagai anak domba Paskah. Rasul Paulus mengatakan bahwa Ia adalah Anak domba Paskah kita (1 Korintus 5:7). Petrus menyatakan-Nya sebagai "Anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat" (1 Petrus 1:19) dan Yohanes Pembaptis, saat melihat Yesus, menggambarkan-Nya dengan berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29). Karena kita, oleh iman dalam Yesus, dibasuh oleh darah-Nya, malaikat maut tidak akan mendatangi kita (Yohanes 11:26).
YESUS, MESIAS KITA YANG MENDERITA
Untuk memahami arti dan tujuan kematian Yesus, kita harus merujuk pada penderitaan Mesias dalam Yesaya 53. Di sini, kita melihat bahwa Mesias "menyerahkan diri-Nya sebagai korban penebus salah" (Yesaya 53:10). Ia mengorbankan diri-Nya. Ia menjadi penanggung dosa. Kita bisa juga melihat bahwa kematian-Nya adalah kematian pengganti, satu kematian yang menggantikan kematian banyak orang. Ia tidak mati demi dosa-Nya sendiri, tapi demi dosa orang lain. Yesaya mengatakan, "Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, .... Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita .... TUHAN telah menimpakan kepada-Nya kejahatan kita sekalian ... kejahatan mereka Dia pikul." (Yesaya 53:4-6,11)
Dari hal itu, kita bisa simpulkan bahwa Perjanjian Lama jelas-jelas menunjuk pada perlunya pengorbanan agung demi dosa, karena pengorbanan dalam Perjanjian Lama tidak akan pernah dapat menebus dosa kita. Perjanjian Lama juga mengatakan tentang Pribadi yang akan memberikan pengorbanan agung dan penebusan itu sekali dan untuk selamanya dengan kematian-Nya: Yesus Kristus, yang "menggantikan kita sebagai persembahan dan korban kepada Allah" (Efesus 5:2). Adalah Dia yang "memikul dosa kita dalam tubuh-Nya di kayu salib" (1 Petrus 2:24), mendamaikan kita dengan Allah "melalui darah-Nya di kayu salib" (Kolose 1:20).
YESUS, SANG PENEBUS AGUNG
Meskipun kita tidak bisa benar-benar memahami karya penebusan Yesus Kristus, Perjanjian Baru menyajikan beragam pikiran untuk menjelaskan dan mengilustrasikan makna kematian-Nya di bukit Kalvari.
Kita dapat melihat elemen pengorbanan dalam karya penebusan-Nya. Karena dosa, kita pantas mati (Roma 3:23; 6:23). Tapi Yesus berkorban bagi kita. "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah." (1 Petrus 3:18)
Kita dapat melihat elemen pemulihan hubungan dalam karya penebusan-Nya. Karena dosa, kita telah terpisah dari Allah yang kudus. Tapi Yesus mati untuk menghapus sebab dari perpisahan itu -- dosa -- dan mendamaikan kita kepada Allah. Sebab "ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya" (Roma 5:10).
Kita dapat melihat elemen tebusan dalam karya penebusan-Nya. Kita telah jatuh ke dalam dosa dan dikuasai olehnya. Tapi Yesus mati untuk menebus dosa kita, memenuhi semua persyaratan kudus hukum Allah dan kutukan-Nya, dan menebus kita dari kuasa dosa (1 Timotius 2:6).
Karena dosa, kita telah melawan Allah dan membangkitkan angkara-Nya. Namun dalam karya penebusan-Nya, Yesus mati untuk menghindarkan kita dari angkara murka Allah dengan mengorbankan diri-Nya. Yesus adalah "pendamai dosa-dosa kita" (1 Yohanes 4:10).
Kita dapat melihat elemen penyelesaian dalam karya penebusan-Nya. Di kayu salib Yesus berkata, "Sudah selesai!" (Yohanes 19:30) Yesus telah melakukan apa pun yang perlu untuk menyelamatkan kita. Ia telah menjalani hidup yang tidak akan pernah kita bisa jalani, dan kematian-Nya menebus dosa kita. Seperti yang dikatakan Yohanes, "Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." (1 Yohanes 1:7) Benar adanya jika kita masih memerlukan penyucian dan pengampunan dosa setiap hari (1 Yohanes 1:9) selama kita hidup, namun kita menerima pengampunan itu atas dasar apa yang telah diselesaikan oleh Yesus Kristus. Kematian-Nya yang sekali dan untuk selamanya menebus semua dosa -- dahulu, sekarang, dan selamanya.
Dalam Perjanjian Baru, kita melihat kasih Allah ditunjukkan melalui Yesus Kristus. "Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita" (1 Yohanes 3:16).
MEMEROLEH FAEDAHNYA
Seperti yang telah kita lihat, melalui kematian Anak-Nya di kayu salib, Allah menebus dosa kita. Dia sudah melakukannya. Pertanyaannya untuk kita sekarang adalah bagaimana kita mengaplikasikan karya penebusan-Nya dan bagaimana mengalami keuntungan dari penebusan itu.
Alkitab jelas mengatakan bahwa penebusan itu tidak diberikan bagi semua orang. Yesus sendiri mengatakan, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21) Yesus juga mengatakan, "Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya." (Matius 25:41) Tidak ada seorang pun yang akan selamat.
Alkitab mengatakan bahwa segala usaha dan kemampuan kita tidak akan dapat membuat kita pantas untuk ditebus. Paulus mengatakan bahwa itu "bukan hasil usahamu ....bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9).
Alkitab juga jelas menyatakan bahwa kita akan pantas ditebus jika kita melaksanakan Sepuluh Perintah Allah. Paulus mengatakan, "Tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, .... Sebab: "tidak ada seorang pun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat." (Galatia 2:16)
Lalu apa yang akan membuat kita pantas ditebus jika usaha, prestasi, dan kemampuan kita tidak mampu membuat kita pantas ditebus? Alkitab jelas menyatakan bahwa kita pantas ditebus karena "iman pada Yesus Kristus" (Galatia 2:16). Karena iman kita pada-Nya, kita dibenarkan dan pantas mendapatkan pengampunan-Nya (Galatia 2:16; Efesus 2:8-9).
Perhatikan penekanan yang diulang-ulang pada iman dalam Kristus. Sifat dan karakter Yesus Kristus tidak dapat dipahami terpisah dari karya penebusan-Nya. Adalah iman terhadap sang Penebus -- Pribadi yang menyerahkan diri-Nya menjadi korban tebusan -- yang menyelamatkan.
Kesimpulannya, keselamatan adalah anugerah yang diberikan secara cuma-cuma, yang pantas diterima siapa pun yang mau dengan iman menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat (Kisah Para Rasul 16:31; Roma 6:23). Iman tidak hanya berarti mengakui penebusan yang telah dilakukan-Nya, tapi juga menyerahkan hidup kita di tangan-Nya. Yesus berkata, "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya." (Yohanes 3:36)
MENENTUKAN KEHIDUPAN KEKAL SESEORANG
Sudah atau belumnya seseorang mendapatkan karya penebusan karena iman-Nya pada Tuhan dan Juru Selamat, menentukan kehidupan kekal seseorang. Mereka yang menerima-Nya pasti akan memeroleh hidup kekal. Mereka yang menolak-Nya akan selamanya terpisah dari-Nya dan akan dilempar ke lautan api, tempat penyiksaan (Matius 8:11-12, 13:40-42, 49-50; 2 Petrus 2:17; Yudas 13; Wahyu 20:13-14).
Dalam Lukas 16:19-31, Yesus dengan jelas mengungkapkan perbedaan kehidupan setelah kematian antara orang-orang yang dengan iman menerima-Nya dan yang menolak-Nya. Keselamatan kekal untuk orang-orang yang percaya bertentangan dengan hukuman kekal untuk orang-orang yang tak percaya (Matius 25:46), dan hal itu ditentukan oleh penerimaan atau penolakan akan pribadi dan karya Yesus Kristus.
Kesimpulannya, Yesus Kristus adalah Pribadi kedua dalam trinitas Allah, Pribadi yang sangat mencintai kita sampai-sampai Ia mau meninggalkan surga, menjadi manusia untuk menebus dosa kita agar kita, melalui iman kepada-Nya, memeroleh hidup kekal dan tinggal bersama-Nya. "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah Para Rasul 4:12) Dia adalah "Allah Mahabesar dan Juru Selamat kita" (Titus 2:13).

Sabtu, 01 Mei 2010

ALLAH ????


Akhir-akhir ini terdengar praktek-praktek tertentu, yang juga perlu dikritisi, karena berpotensi ke arah perpecahan, jika tidak dicarikan solusi yang memadai. Ada sebagian orang yang mulai mengadakan praktek pengusiran Roh Allah. Lainnya mulai bersikap antagonis terhadap nama Allah dan melarang orang menggunakan nama Itu. Bolehkah kita mempertahankan penggunaan nama “Allah” dikalangan umat kristiani, ataukah kita harus berhenti dan menggantikannya dengan nama lain untuk obyek penyembahan kita? Bertitik tolak dari pertanyaan ini, kita berusaha dengan pertolongan Tuhan untuk mencari pemecahan yang seobyektif mungkin dari perspektif , gramatikal, historikkal, kultural, dan kontekstual, yang kesemuanya akan dianalisa secara kritis dalam kebenaran serta melihat dalam segala segi menurut sudut pandang terang Alkitab.

Doktrin
Dalam Bibliologi (dogma tentang pewahyuan dan inspirasi Alkitab), kita belajar bahwa Roh Kuduslah yang menuntun para penulis Alkitab untuk menulis apa yang perlu dan memilih kata-kata yang tepat untuk digunakan dalam penulisan (2 Tim.3:16, 2 Pet.1:20, 21). Hal ini berlaku untuk seluruh Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Inilah yang disebut “verbal, plenary inspiration”. Keyakinan inilah yang membuat kita percaya akan kualitas dan sifat Alkitab yang tidak bersalah (inerrant-infallible). Roh Kudus, yang maha bijaksana, telah menuntun dan menetapkan, bahwa dalam kepentingan misi dunia, dan dalam kaitan dengan penyebaran Injil secara global, maka bukan bahasa Ibrani lagi yang dipakai untuk menjadi naskah asli Perjanjian Baru, nelainkan bahasa Yunani. Dengan demikian, para penulis Perjanjian Baru diilhami (diberi inspirasi) untuk menerjemahkan “Yahweh” dengan “Kyrios” , kemudian “El” dan “Elohim” (tunggalnya Eloah) dengan “ Theos”. Roh Kudus merasa perlu berbuat demikian karena bahasa Yunani ketika itu adalah bahasa internasional atau bahasa pergaulan, yang menghubungkan orang-orang yang berlainan bahasa (lingua franca). Contoh dari kebijaksanaan Roh Kudus itu adalah Wahyu 19:4, dikatakan dengan jelas sembahlah Theos. Tidak dikatakan sembahlah Elohim. Walaupun ke dua nama itu baik Elohim maupun Theos adalah nama-nama sebutan umum (generic names), yang juga bisa dipakai untuk ilah-ilah lain (Kittel 1985, 326), tetapi Roh Kudus menggunakan keduanya dalam Alkitab, dan khusus untuk Perjanjian Baru Ia memilih Theos untuk nama bagi obyek sembahan, bahkan Yesus sendiri yang adalah Logos itu disebut “Theos” (Yoh.1:1). Nama “Yahweh” memang bukan generic name, karena dipakai secara khusus untuk obyek sembahan Israel. Ini adalah nama pribadi, atau personal name (Achtemeter 1990, 684) bagi Tuhan yang dikenal di Israel, yang harus diindahkan, dikuduskan, dihormati dan tidak boleh disebut dengan sembarangan. Kendatipun demikian, dalam kebijaksanaan Roh Kudus ketika memberikan inspirasi kepada penulis Perjanjian Baru, Ia memilih kata Kyrios sebagai terjemahan atau pengganti “Yahweh”. Siapakah yang akan keberatan atas kebijaksanaan inspirasi Roh Kudus ini? Siapa kita untuk mengatakan tidak boleh nama “Yahweh” diganti atau diterjemahkan ke nama atau gelar lain? Sesungguhnya kita tidak lebih bijaksana daripada Roh Kudus
ETIMOLOGIS KATA ALLAH
Kita mendekati pembahasan kata Allah dari sudut bahasa. Kata Allah berasal dari dua kata: al, dan ilah. Al adalah kata sandang (band. Bahasa Inggris: the), dan ilah berarti: yang kuat, dewa. Dalam bahasa-bahasa Semit, kata ini menunjuk pada kuasa yang ada di luar jangkauan manusia, yaitu pada dewa. Sudah di masa para-Islam, al-ilah disambung menjadi Allah. Dan dalam agama orang-orang Arab para-Islam, kata ini digunakan untuk menunjuk pada dewa yang paling tinggi di antara dewa-dewa yang lain, yang masing-masing mempunyai namanya sendiri. Namun kata Allah itu sendiri bukan nama, seperti diterangkan di atas. Dengan demikian, kata Allah sudah ada dalam bahasa Arab sebelum Islam dalam zaman jahiliya atau jaman politeis. Kata itu bukan ciptaan orang Islam, ia juga tidak baru muncul dalam Al-Quran Al-Karim, melainkan, dari sudut bahasa, ia merupakan kata biasa dalam bahasa Arab lepas dari ikatan dengan salah satu agama tertentu.
Bagi orang-orang Arab pra-Islam nama Allah sudah dikenal dalam pengertian dipakai. Yang dimaksudkan dengan pra-Islam disini adalah era sebelum tahun 610. Menurut Ensiklopedi Islam: Kata Allah sudah dikenal oleh masyarakat Arab sebelum Islam. Itu terlihat dari nama mereka yang mengandung kata tersebut, seperti nama Abdullah (Abdi Allah). Sejarah menunjuk bahwa pada masa Nabi Muhamad SAW terdapat orang-orang yang menganut agama wahyu sebelum Islam, yang hanya menyembah Allah SWT, sebagaimana yang dilakukan kaum Hanif (Ridwan 1994, 124).

Secara etimologis dan semantic, kata ini terdapat pula dalam bahasa-bahasa Semit yang lain, mulai dengan bahasa Assiria dan Babilonia sampai bahasa Phoenikia di Ugarit, dan pula dalam bahasa Ibrani dan Siriani atau Arami yang luas digunakan di Timur Tengah sejak abad ke-5 SM sampai masa meluasnya agama Islam dan bahasa Arab pada abad ke-7 Masehi. Akar kata ini yang terdapat dalam bahasa-bahasa itu ialah dua konsonan (huruf mati), yakni alif dan lam (el), dan ucapannya yang lengkap dengan huruf hidup adalah sesuai dengan phonetic masing-masing bahasa, umpamanya el dalam bahasa Ibrani dan il dalam bahasa Arab.

Yang dikenal dalam bahasa Ibrani, dan dengan demikian pula dalam nats Ibrani Perjanjian Lama (Tenakh orang-orang Yahudi), adalah kata el dalam beberapa bentuknya, entah el-elyon, dewa yang tertinggi, band. Kej. 14, el syaddai (dewa yang kuasanya dahsyat), dan lain sebagainya atau kata elah (kepanjangan huruf hidup untuk menandai kebesaran). Dengan mengikut tata phonetika, maka elah dalam bahasa Ibrani adalah sama dengan bentuk ilah dalam bahasa Arab. Dari bentuk elah ini dibentuklah kata jamak elohim. Elohim-lah yang paling sering digunakan dalam Perjanjian Lama, di mana jamaknya menunjuk kepada kemahabesarannya (pluralis maiestatis, atau jamak kemuliaan yang dikenal pula dalam Al-quran di mana perkataan Allah dikemukakan dengan nahn, kami). Di samping itu, tetragram (YHVH, Yahveh) digunakan pula, namun ialah nama Allah (Kel. 3, 14 dyb.). Di kemudian waktu nama itu tidak diucapkan lagi melainkan dalam bacaan nats suci ia digantikan dengan ucapan adonay (Tuhan) atau saja dengan kata syama (bahasa Arami, band. Bahasa Ibrani syam dan bahasa Arab ism, artinya nama itu. Ucapan adonay atau syama hanya digunakan dalam pembacaan, sedangkan dalam nats Ibrani yang tertulis, empat huruf YHVH tetap ditulis. Kebiasaan ini mengundang suatu kekeliruan di kalangan orang yang tidak mengetahui mengenai kebiasaan ini. Ketika tanda-tanda untuk huruf hidup ditambah pada nats bahasa Ibrani yang tertulis, maka tulisan YHVH ditandai dengan huruf-huruf hidup dari kata adonay, dan kombinasi ini memberikan kesan seolah-olah kata itu dibaca Yehovah. Kekeliruan ini sampai kini tetap dipertahankan oleh beberapa sekte Kristiani (seperti a.l. Saksi Yehovah) yang tidak tahu tentang aturan bahasa Ibrani dalam soal membaca nats suci. Jika JHVH berupa nama Allah yang kemudian tidak diucapkan, maka kata elah, elohim tetap digunakan dan diucapkan.

Allah memang bukan nama.
Dalam terjemahan Perjanjian Lama atau Tenakh ke dalam bahasa Yunani yang disebut Septuaginta dan yang dikerjakan sekitar 150 tahun SM oleh orang-orang Yahudi yang bermukim di Mesir, tetragram (yakni 4 huruf tulisan YHVH) dialihkan dengan kyrios (artinya sama dengan adonay, Tuhan atau rabb), dan dari situ penggunaannya diambil oleh umat Kristiani dan Perjanjian Baru yang juga ditulis dalam bahasa Yunani. Sedangkan kata el, elah atau elohim dialihkan dengan kata ho theos, dewa itu yang sama artinya dengan al-ilah atau Allah, dan demikian pula penggunaannya dalam Perjanjian Baru.

Dalam khotbah rasul Paulus di Areopagus di kota Athena, Paulus malah menghindari menyebut dewa-dewa Yunani dengan kata theoi (bentuk jamak dari theos) ketika ia menyinggung rasa religiositas orang Athena yang tinggi (Kisah Para Rasul 17:22). Kata yang ia pakai ialah deisidaimonesterous, yang dalam bahasa Latin diterjemahkan dengan superstitiosiores, yang sangat percaya kepada hal-hal yang sangat luar biasa. Jadi dewa-dewa Yunani disebut Paulus sebagai daimon, yakni hantu atau leyak dalam bahasa-bahasa suku Indonesia atau jinn dalam bahasa Arab. Mereka bukan dewa, sehingga kata ho theos hanya digunakan untuk menunjuk kepada Allah yang benar. Hal ini kurang diperhatikan dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia yang menerjemahkan kata Yunani itu dengan yang sangat beribadah kepada dewa-dewa; terjemahan itu tidak tepat. Dalam bahasa Alkitab, istilah-istilah yang digunakan diperiksa dengan sangat seksama. Keseksamaan yang dialektis itu juga nampak dalam Injil Yohanes, umpamanya dalam dua ayatnya yang pertama di mana dalam terjemahan-terjemahan pembedaan di antara theos dan ho theos (ilah dan Allah) tidak diperhatikan. Kata (ho) theos ini hanya digunakan untuk menunjuk kepada Allah yang benar dan tidak digunakan untuk dewa-dewa orang politeis. Suatu teologi yang bersifat ilmiah harus peka terhadap rincian-rincian seperti itu.

Melihat kewaspadaan rasul Paulus dan para penulis Alkitab yang lain dalam perkataan yang mereka pilih untuk menyebut Allah, maka mengherankan benar bilamana dalam terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Indonesia dewa-dewa orang-orang politeis juga diterjemahkan dengan allah-allah. Terjemahan itu salah, baik dari sudut teologis maupun dari sudut filologis.
Dewa-dewa itu paling boleh diterjemahkan dengan ilah-ilah sebagai pengganti jamak bahasa Arab yaitu liha, atau lebih baik lagi diterjemahkan dengan dewa-dewa. Juga tulisan illahi (pakai dua ila) yang sering kita temui memang salah adanya.

Dalam terjemahan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Siryani yang digunakan di Siria sebelum Islam datang dan yang merupakan salah satu cabang bahasa Arami dan termasuk rumpun bahasa-bahasa Semit, terjemahan mana dikerjakan baik oleh orang-orang Yahudi maupun Kristen, maka kata yang digunakan untuk Allah adalah kata yang biasa digunakan dalam bahasa-bahasa Semit, yakni yang berakar dalam akar kata al dan dalam bahasa Siryani diucapkan alahu, dewa itu yang sama artinya dengan ha-ellah dalam bahasa Ibrani, ho-theos dalam bahasa Yunani dan Allah (=al-ilah) dalam bahasa Arab.
Dengan demikian tidak mengherankan pula bahwa orang-orang Islam menggunakan kata Allah (= al-ilah)untuk menunjuk kepada Allah yang benar, dan orang-orang Yahudi dan Kristen baik yang sudah menggunakan bahasa Arab sebelum agama Islam disebarkan maupun yang kemudian menggunakan bahasa Arab setelah wilayah mereka dikuasai oleh orang-orang Arab, memakai kata yang sama pula sebagaimana terbukti dari syair-syair Kristen Arab para-Islam dan tulisan-tulisan Kristen Arab sesudah Islam datang.

Jadi, kata Allah sebagai salah satu kata yang memang tertanam dalam bahasa Arab dan senantiasa digunakan oleh setiap orang yang menggunakan bahasa Arab itu, lepas dari ikatan agamanya. Ia sudah digunakan oleh orang Arab di zaman pra-Islam yang sering disebut zaman jahiliyya, kemudian dipegang bersama-sama orang Yahudi dan Kristen yang menggunakan bahasa Arab dan kemudian pula orang-orang Islam.
Semua berdasarkan latar belakang etimologis kata itu sendiri, akan tetapi dengan memberikan isi dan makna sesuai dengan pemahaman teologis masing-masing yang berbeda satu sama lain. Jadi dengan melihat dari sudut Historika(sejarahnya) dan Etimologi kata serta Alkitab maka bagi orang Kristen Kata Allah itu adalah kata penunjukan tentang Tuhan dan bukan Nama.




.

Kamis, 16 Juli 2009

Pendalaman Alkitab


PENDAHULUAN

Sekilas lintas nampaknya tidak ada manfaatnya apabila kita memperbincangkan sebab-sebab mengapa kita harus mempelajari Friman Allah. Orang-orang percaya, baik yang baru masuk iman maupun yang sudah lama harus mendapat bimbingan Firman Allah terus-menerus sepanjang hidup mereka, agar mereka dapat mengenal Kristus lebih mendalam. Tetapi kini kenyataannya tidak demikian. Pengamatan membuktikan bahwa sebagian besar orang Kristen memiliki pengetahuan Firman Allah terlalu minim.

MENGAPA KITA HARUS MEMPELAJARI FIRMAN ALLAH

A. Sebab Alkitab adalah Allah Sendiri Pengarangnya

Berulang-ulang Allah mengatakan bahwa Dialah Tuhan, Pencipta, Juruselamat, Gembala, Hakim, dan lain-lain. Peran dan kehendak Allah dinyatakan dalam buku ini. Kebanggaan bagi setiap pengarang apabila kita mengatakan saya telah membaca buku Bapak. Hal yang sama seharusnya saudara katakan “Yesus, saya sudah membaca, dan akan terus membaca bukuMu.”

B. Sebab Berulang-ulang Allah Memperintahkan

1. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat…renungkanlah itu siang dan malam…” (Yos. 1:8)

2. …bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci…” (I Tim. 4:13)

3. …manusia tidak dapat hidup dari roti saja, tetapi juga dari perkataan yang diucapkan oleh Allah” (Mat. 4:4)

C. Sebab Alkitab adalah Tuntunan Bagi Kehendak-Nya yang Mulia

1. Orang berdosa menerima keselamatan lewat berita Firman Allah

v …yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan…Tetapi bagaimana mereka dapat berseru…percaya…mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakannya?(Rm. 10:13-17)

v Ketika mendengar hal itu heti mereka sangat terharu…” (Kis. 2:37)

v Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus …mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu…” (Kis 8:4-8)

2. Orang percaya disucikan oleh Firman Allah

v Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, FirmanMu adalah kebenaran” (Yoh. 17:17)

v Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir…selalu ingin akan susu yang murni dan yang rohani…” (I Pet. 2:2)

v Firman kasih karunia-Nya yang berkuasa membangun kamu…” (Kis. 20:32)

3. Firman Allah mengubah kehidupan kita yang lama menjadi manusia baru di dalam Dia (Mzm. 3:16-17)

D. Sebab Musuh Kita (setan) Sudah Membacanya

Di dalam Matius 4, Kristus dicobai sebanyak 3 kali oleh iblis. Di dalam setiap kasus, Yesus selalu menjawab: “Ada tertulis”. Di dalam pencobaan yang kedua, setan menghendaki Yesus terjun dari bumbungan bait Allah (Mat. 4:5-6). Setan mengutip Mazmur 91:11 dan 12.

E. Sebab Alkitab adalah Jawaban yang Sempurna

Sering dipertanyakan manusia dari generasi ke generasi.

1. Dari mana asal-muasal manusia

Allah berkata: “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:26-27)

Ketahuilah bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita…” (Mzm. 100:3)

2. Mengapa saya diciptakan

Pengkhotbah 12:13; Wahyu 4:11

3. Kemana kesudahan saya nanti

Yohanes 3:16-18; Mazmur 23:1,6; Wahyu 20:15

Pendalaman Alkitab

PENDAHULUAN

Sekilas lintas nampaknya tidak ada manfaatnya apabila kita memperbincangkan sebab-sebab mengapa kita harus mempelajari Friman Allah. Orang-orang percaya, baik yang baru masuk iman maupun yang sudah lama harus mendapat bimbingan Firman Allah terus-menerus sepanjang hidup mereka, agar mereka dapat mengenal Kristus lebih mendalam. Tetapi kini kenyataannya tidak demikian. Pengamatan membuktikan bahwa sebagian besar orang Kristen memiliki pengetahuan Firman Allah terlalu minim.

MENGAPA KITA HARUS MEMPELAJARI FIRMAN ALLAH

A. Sebab Alkitab adalah Allah Sendiri Pengarangnya

Berulang-ulang Allah mengatakan bahwa Dialah Tuhan, Pencipta, Juruselamat, Gembala, Hakim, dan lain-lain. Peran dan kehendak Allah dinyatakan dalam buku ini. Kebanggaan bagi setiap pengarang apabila kita mengatakan saya telah membaca buku Bapak. Hal yang sama seharusnya saudara katakan “Yesus, saya sudah membaca, dan akan terus membaca bukuMu.”

B. Sebab Berulang-ulang Allah Memperintahkan

1. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat…renungkanlah itu siang dan malam…” (Yos. 1:8)

2. …bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci…” (I Tim. 4:13)

3. …manusia tidak dapat hidup dari roti saja, tetapi juga dari perkataan yang diucapkan oleh Allah” (Mat. 4:4)

C. Sebab Alkitab adalah Tuntunan Bagi Kehendak-Nya yang Mulia

1. Orang berdosa menerima keselamatan lewat berita Firman Allah

v …yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan…Tetapi bagaimana mereka dapat berseru…percaya…mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakannya?(Rm. 10:13-17)

v Ketika mendengar hal itu heti mereka sangat terharu…” (Kis. 2:37)

v Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus …mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu…” (Kis 8:4-8)

2. Orang percaya disucikan oleh Firman Allah

v Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, FirmanMu adalah kebenaran” (Yoh. 17:17)

v Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir…selalu ingin akan susu yang murni dan yang rohani…” (I Pet. 2:2)

v Firman kasih karunia-Nya yang berkuasa membangun kamu…” (Kis. 20:32)

3. Firman Allah mengubah kehidupan kita yang lama menjadi manusia baru di dalam Dia (Mzm. 3:16-17)

D. Sebab Musuh Kita (setan) Sudah Membacanya

Di dalam Matius 4, Kristus dicobai sebanyak 3 kali oleh iblis. Di dalam setiap kasus, Yesus selalu menjawab: “Ada tertulis”. Di dalam pencobaan yang kedua, setan menghendaki Yesus terjun dari bumbungan bait Allah (Mat. 4:5-6). Setan mengutip Mazmur 91:11 dan 12.

E. Sebab Alkitab adalah Jawaban yang Sempurna

Sering dipertanyakan manusia dari generasi ke generasi.

1. Dari mana asal-muasal manusia

Allah berkata: “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:26-27)

Ketahuilah bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita…” (Mzm. 100:3)

2. Mengapa saya diciptakan

Pengkhotbah 12:13; Wahyu 4:11

3. Kemana kesudahan saya nanti

Yohanes 3:16-18; Mazmur 23:1,6; Wahyu 20:15